Rabu, Desember 26, 2007

MY GRANDMOTHER

Kasihan dia, dia sudah sangat tua. Masih ingat aku saat aku masih kecil, dia yang membantu kehidupan keluargaku, dia ibu dari almarhumah ibuku. Aku sayang padanya, dia yang melahirkan ibuku. Aku tahu dia sangat berjasa, hidupnya dari dahulu secara ekonomi tidak pernah bahagia, meskipun aku tahu kebahagiaan itu bukan cuma materi saja, dari sisi lain aku yakin dia bahagia meskipun kini anaknya tinggal satu orang yaitu tanteku yang kini tinggal bersamaku, meskipun aku terpaksa menempati rumah nenekku karena aku kasihan dengan suamiku, dia harus memarkir motornya di rumah tetangga alias titip untuk waktu yang tidak ditentukan, entahlah aku bingung bagaimana caranya aku bisa membuat garasi hanya untuk satu motor. Jangankan untuk motor parkir, rumah nenek sudah tidak bisa lagi untuk ruang tamu. Semua ruangan digunakan untuk ruang tidur, dapur dan kamar mandi.
Sebenarnya rumah itu bukan rumah sah nenekku, rumah itu rumah warisan dan masih dalam status sengketa, karena keluarga ayah nenekku yang meninggal sebelumnya tidak adil dalam pembagian harta dan kakak nenekku yang baru saja meninggal mengatasnamakan rumah itu atas nama dia dan dia tidak meninggalkan wasiat apapun agar anak-anaknya dan keluarga nenekku bisa hidup damai berdampingan.Sayang sekali tidak ada sepatah katapun.
Hingga kini nenekku selalu mengungkit - ungkit soal rumah itu, tanteku di suruhnya untuk mengurusnya agar dia mendapat hak atas rumah itu. Tapi tentu saja dengan cara yang salah karena nenekku bukan orang terpelajar dan sudah agak pikun. Dia Sekolah Rakyat saja tidak pernah, tanteku juga tidak lulus SD katanya dulu dia tidak punya biaya, andai saja dia sekolah dia pasti jadi orang sukses karena dia orangnya sangat rajin dan mau bekerja keras. Hampir setiap hari nenekku marah - marah ke tante, dia menyuruh tante untuk laporan ke RT kemudian lapor ke polisi agar bisa menguruh soal tanah dan rumah itu. Aduh nenek, itu bukan bidangnya pak RT dan polisi. Tapi nenek terkadang tidak mau tahu.
Entah kenapa dia sangat benci dengan keluarga Mbah Gani (Kakekku, juga adiknya nenek diatas). Air PDAM yang kami pakai sama soalnya kami masih dalam satu atas, hanya saja dibagi dua rumah itu (Duplex). Nenek marah - marah ketika orang sebelah (anak-anak kakek) ambil air di tandon air itu. Aku memberitahunya kalau kita bayar bersama dan mereka berhak mengambilnya. Dan Aku jelaskan air itu tidak akan mengalir kalau kita tidak bayar, jadi tidak ada mata airnya. Aduh nenek, sekali lagi dia tetep marah gak mau tahu.
Listrik di rumahku sering mati waktu itu, sekarang sudah diperbaiki. Nenekku marah lagi.
Dia minta Lampu minyak yang banyak agar rumah terang, dia bilang rumah gelap sekali lampunya kurang, padahal dari depan sampai belakang menurutku sudah cukup terang, aku tahu kalau nenek penglihatannya sudah berkurang, tapi memang nenekku begitu dikasih tahu sudah tua dan itu sudah biasa kalau penglihatannya memang begitu, orang yang masih muda saja yang sering dipakai matanya untuk melihat komputer banyak yang menderita minus dan pakai kacamata apalagi karena faktor usia.
Oh nenek, kasihan kamu, aku pun tidak bisa membahagiakan kamu di saat - saat kamu harus istirahat untuk berpikir kamu masih memikirkan kami karena memang kami belum punya rumah sendiri, dan aku tidak tahu apa yang akan terjadi kelak jika nenekku sudah tidak ada. Posisiku sangat lemah untuk mempertahankan rumah itu.
Aku berharap kelak sebelum nenekku pergi aku pengen dia tahu aku sudah punya rumah sendiri, anak yang lucu dan kehidupan ekonomi yang baik.

Terimakasih nenek, kamu salah seorang yang telah membuat aku bisa kuliah hingga Sarjana meskipun kamu tidak pernah menikmati sekolah.

Tidak ada komentar: