Kamis, Maret 27, 2008

BUMIAYU - Tahun 2003



Aku bermaksud untuk pindah dari kos jl. Banyar. Selain kamarku yang seperti gudang yang setiap hari penuh dengan nyamuk, untuk harga rata - rata di sana tempat kos itu termasuk mahal. Bayangin aja, tidak ada ventilasi udara, tidak ada lemarinya, dan pintu kamarku sering dipakai buat bersandar orang nonton TV di depan kamarku, karena memang TV nya ada di depan kamarku. Akibatnya kalau aku sudah di dalam kamar, jadi agak susah buat keluar masuk, tidak nyaman kan? Apa lagi waktu itu selang 3 hari setelah bapak kos sakit parah, dia meninggal dunia dan jenazahnya di sandarkan tepat di sebelah dinding kamarku. Tapi itu bukan alasan sebenarnya. Yang menjadi alasan utama adalah aku pengen punya teman ngombrol sekedar melepas lelah setelah seharian bekerja, tapi di Jalan Banyar itu hampir semua yang kos sudah berkeluarga, selain itu kamar mandi yang dipakai cuma satu dan airnya pun agak keruh.

Meskipun ibu kos sangat ramah, aku bersikeras untuk pindah. Pagi itu, sebelum ibu bepergian keluar, aku memberikan uang muka sepertiga dari uang kos yang biasanya untuk bulan berikutnya, "Bu, uang ini sebagai uang muka saja kalau saya besok tetep disini tapi kalau saya pindah, berarti uang itu buat ibu saja," kataku.

Seminggu kemudian aku bermaksud untuk pamitan, tapi sayang ibu kos sudah sejak pagi tidak kelihatan entah kemana, aku sebenernya tidak enak kalau harus pergi begitu saja, tapi aku sudah merencanakan dan sudah memberitahukan sebelumnya, aku tidak bisa tetap tinggal di kos itu karena semua barang sudah kupindahkan ke Jalan Suprapto termasuk lampu duduk di kamarku yang memang aku beli sendiri karena lampu di kamarku mati. Selain itu baju kerjaku pun sudah kuangkut, bagaimana mungkin aku bisa pindah.

Akhirnya dengan terpaksa aku pergi dan berpesan pada anaknya ibu kos karena saya akan kembali untuk mengembalikan kuncinya, aku tidak begitu percaya dengan anaknya ibu kos.


Mobil yang kupinjam melaju ke jalan suprapto untuk memindahkan barang - barangku, kemudian mobil pinjaman dari kantor Aqua itu kami pinjam pula untuk jalan - jalan ke Bumiayu yang jaraknya kira - kira memakan waktu 2-3 jam. Aku, Sigit dan Jhoni bermaksud ke rumah Tasrip yang ada di Bumiayu, kami mampir sebentar di rumah Pak Madyo yang waktu itu kepala gudang Aqua Tegal. Setelah melewati perkampungan penduduk dan hutan akhirnya kami sampai di rumah Tasrip. Kami dijamu dengan makanan Tegal, dan kebetulan waktu itu lagi musim rambutan, kami pun ikut makan rambutan yang di ambil dari samping rumah.


Wah gimana ya kabar mereka sekarang.

1 komentar:

stey mengatakan...

Bumiayu?
kecil banget ya kotanya..ga ada apa2nya pula..